FIRASAT
Kalian percaya gak dengan firasat?Aku sih gak percaya yang namanya
firasat, aku lebih percaya logika daripada firasat.Sebab firasat itu terkadang gak
masuk akal.Tapi ntah kenapa teman dekatku Nina percaya banget yang namanya
firasat, sedikit-sedikit firasat. Kalau ada hal yang aneh aja pasti selalu
bilang ”eeh, firasat aku gak enak ni.”
Pagi itu di sekolahku tepatnya SMA TRI BHAKTI, aku dan Nina
sedang asyik berbincang-bincang di taman.Tau kah kalian yang kami bincangkan
adalah harga cabe, sayur dan lauk pauk lainnya.Itukan seharusnya bahan cerita
untuk ibuk-ibuk di kedai, tapi itulah kami.Aku dan Nina memang aneh, kami itu
takkan terpisahkan bagaikan permen karet, selalu lengket.
Bel pulang pun berbunyi, aku dan Nina seperti biasa sebelum
pulang beli permen karet di kantin.Untung saja kantin langganan kami masih
buka.Setelah itu aku dan Nina menuju ke perkiran mengambil Honda kami
masing-masing. Selama di perjalanan kami asyik berbincang. Tapi ntah kenapa
sejenak Nina termenung dan mengatakan…
”Ta, perasaan gue gak enak
ni. Firasat gue mengatakan akan terjadi sesuatu.” Sambil berteriak
”ahh, lo Nin.Selalu
firasat-firasat dan firasat yang lo bilang.Bosan tau gue dengarnya. Zaman
sekarang nin, lo masih percaya firasat. gue heran sama lo tau gak.” Kataku
sambil menasehati dia dan gak lupa sedikit berteriak biar kedengaran.
”terserah lo deh ta,
pokoknya firasat gue gak enak.”Kata Nina berteriak.
Dan beberapa menit kemudian,
di perjalanan aku dan Nina melihat di simpang tiga banyak polisi merazia
pengendara motor. Hatiku menjadi dag-dig-dug karena aku takut ditilang dan
diminta uang sama polisi-polisi itu. Sedangkan Nina mukanya mulai pucat kayak
orang belum makan setahun. Karena gak ada pilihan lain, aku dan Nina terpakasa
melewati polisi-polisi yang sedang merazia. Tiba-tiba aku dan Nina beserta
motor-motor kami, diberhentikan dan dihadang oleh polisi-polisi itu.
”STOP!!!”
”ada apa ni pak? Kami salah
apa?” kataku heran dan bingung
”kamu gak tau salah kamu
apa?”Tanya polisi yang menilangku.
”gak pak. Saya merasa gak
ada salah pak.” Kataku polos seperti anak kecil yang gak ada dosa.
”kamu memang gak peka!!!”
kata polisi itu yang makin membingungkanku dan Nina.
Aku dan Nina memutuskan kabur dan meninggalkan polisi yang gak
jelas bin aneh. Setelah kami berhasil kabur dari polisi tersebut, kami pun
pulang menuju rumahku.Di rumah kami berbincang-bincang lagi, dan yang
dibincangkan soal firasat Nina.Bosan aku mendengarnya.
”benarkan ta, gue bilang
juga apa pasti akan terjadi yang gak baik. Buktinya tadi kita sempat bermasalah
dengan polisi.” Kata Nina.
”alah, palingan itu cuman
kebetulan aja. Lo jangan deh, percaya firasat firasat dan firasat. gue bosan
dengarnya!!”
akupun kesal dengannya dan masuk ke kamarku untuk beristirahat.
Sedangkan Nina masuk ke kamarnya. Oh ya, aku dan Nina satu rumah soalnya papa
dan mama Nina lagi pergi ke Australia karena urusan bisnis.
Malampun tiba seperti biasa aku dan Nina baca majalah-majalah
cewek, tak lupa makanan nya juga yaitu Snickers biar gak resek.Tapi malam ini
Nina terlihat tidak ceria, mukanya murung dan sedih seperti orang kalah judi
saja.
”lo kenapa sih nin? Tanyaku.
”gue oke kok ta, gak
kenapa-kenapa.” Kata Nina smbil tersenyum terpaksa gitu.
”hemm, lo jangan bohong deh…
gue tau lo bohong. Cerita dong ke gue, siapa tau bisa gue bantu.” Kataku sambil
menawarkan bantuan.
”gini Ta, gue udah lama gak
ketemu sama Rio. Dan gue kangen sama dia. Terus kemarin dia nelfon gue, dia
ngajak gue pergi ke puncak besok. Tapi….” Curhat Nina yang terputus. Oh ya
sebelumnya gue kenalkan Rio itu adalah kekasih Nina yang sekolah di Bandung.
Oke kembali ke cerpen….
”tapi apa Nin?” tanyaku
penasaran alias kepo dengan masalahnya.
”tapi gue gak yakin ta, gue
rasa besok akan terjadi yang mengerikan ketika kita ke puncak.” Jelas Nina yang
sedikit ketakutan.
”kan lo suka banget pake
firasat, semua itu gak terjadi ta. Banyak berdoa aja deh lo..jangan berpikir
negatif, buang firasat aneh bin ajaib lo tu.”
”tapi gue serius…”
Akupun menutup mulutnya
dengan jari telunjuk ku.
”pokoknya lo jangan khawatir
dan besok kita tetap ke puncak sama-sama. Dah ayo kita tidur lagi, besok kita
harus siap-siap.” Kataku sambil mengajak Nina yang masih ragu dan takut untuk
tidur.
Keesokan paginya aku dan Nina bersiap-siap untuk berangkat
ke puncak.Setelah kami siap-siap, tak lama kemudian Rio dating dengan mobil
mewahnya menjemput Nina dan aku. Aku dan Nina pun langsung memasukan
barang-barang kami ke dalam mobil Rio. Lalu, kamipun berangkat menuju puncak.Selama
di perjalanan aku dan Nina tertidur lelap, dan Rio fokus menyetir. Tapi
tiba-tiba….
Brukkkkkk….prrrttttt
”SIALAN!!” teriak Rio yang
megelegar membuat kami terbangun dari mimpi indah.
”ada rio??” Tanya Nina
”hemm, mobilnya mogok nih
nin.” Jelas Rio
”cari dong bengkel atau apa
gitu. Biar gak mogok lagi.” Saranku
”gak ada ta, kita jauh
banget dari kota. Lo gak sadar kita lagi dimana..” kata rio.
Akupun memandang sekelilingku yang berbaris hanyalah pepohonan
yang lebat alias hutan yang sedikit menyeramkan dan sepi.Aku, Nina dan Rio
bingung harus bagaimana.Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat dulu di
dalam mobil karena hari sudah larut malam.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, tiba-tiba Nina meringis
sakit perut. Dia merasa lapar.Rio merasa kasihan dengan Nina.Lalu, Riopun izin
pergi keluar dan mencari tempat makan untuk membeli makanan buat Nina dan juga
aku. Tapi Nina tiba-tiba bilang…
”jangan keluar Rio, aku
takut dan firasatku akan terjadi sesuatu dengan kamu. Kita kan gak tau kita
sekarang di daerah mana. Bisa jadi nanti kamu di bunuh sama penjahat.” Kata
Nina yang sangat ketakutan.
Untuk menghilangkan rasa takut Nina.Rio mengatakan ke Nina jangan
khawatir dan mencium kening Nina.Aku sedikit iri karena aku jadi obat nyamuk di
antara mereka berdua.Setelah itu, Riopun pergi mencari makanan, dan kami
memutuskan untuk tidur dan mengunci mobil dan menutup semua kaca jendela.
Jam telah menunjukkan pukul 02.00 malam, tapi Rio tak kunjung
kembali, aku dan Nina menjadi khawatir dan tambah takut. Kemudian, tiba-tiba
terdengar suara menekan yang keras di atas langit-langit mobil.
Tap-tap-tap
Kami mulai panik tapi teralu takut untuk keluar & mencari
tahu.Nina dan aku terus mencoba mengintip keluar jendela.Tapi terlalu gelap untuk
melihat apapun.
Tap-tap-tap
Kami terpaksa untuk tetap meringkuk di dalam mobil sepanjang malam
mendengarkan suara aneh di atap mobil.Akhirnya, aku dan Nina kembali
tertidur.Ketika kami bangun & melihat jam menunjukan pukul 9 pagi, tapi
ketika Nina melihat keluar jendela, semua tampak gelap. dia tak mengerti tempat
apa ini.Tiba-tiba, kami mendengar suara mobil berhenti di dekat mobil kami&
membunyikan klaksonnya 3 kali. Kami mendengar suara berteriak,
“ini polisi. apakah ada
seseorang di dalam mobil?”
kami menghela napas lega. “hanya aku dan Nina” kami menangis
kami menghela napas lega. “hanya aku dan Nina” kami menangis
“teman kami meninggalkan
kami sendiri & dia tak pernah kembali” kataku.
“oke, tetap diam.” kata
polisi
“dengarkan aku. bukalah
pintu, keluar dari mobil & berjalan ke arahku. terserah apa yg kalian
lakukan, jgn melihat ke belakang.”
Aku dan Nina menuruti perintah polisi.meskipun tangan kami gemetar
pikiran kami terpacu. Dan akhirnya, Kami membuka pintu mobil & berjalan
keluar.
“sekarang berjalan ke arahku.”
kata polisi
“dan jangan melihat ke
belakang.”kami mulai berjalan perlahan menuju polisi. Tapi Nina tiba-tiba
berhenti
“jangan melihat ke
belakangmu!” teriak polisi
Tapi itu sudah terlambat.Nina
tidak bisa menahan diri. dia berbalik & menjerit ngeri.Mayat Rio
tergantung terbalik di cabang pohon di atas mobil.Kepalanya telah terpenggal
& darah menetes dari lehernya, telah sepenuhnya menutupi jendela mobil.
Semenjak kejadian itu aku kini percaya banget dengan firasat. dan
semenjak kematian Rio, Nina dan aku memutuskan untuk pindah ke London untuk
menenangkan diri sambil melanjutkan sekolah kami.
Jadi jangan pernah meremehkan
firasat, karena firasat terkadang bisa kenyataan.
lumayan (y)
ReplyDelete:v
ReplyDelete